KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang
Maha Esa, atas kasih dan penyertaanNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Tugas yang terkait dengan mata kuliah
Estimasi Biaya. Dalam tugas Estimasi Biaya penulis ditugaskan untuk membuat
Makalah yang terkait dengan “ Estimasi Biaya Proyek Konstruksi” dalam
penyusunan makalah ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini kepada :
1. Ibu
Esterlita Waney, ST.,M.Eng.,Mgmt selaku dosen pengajar mata kuliah Estimasi
Biaya
2. Orang
Tua penulis yang selalu memberikan semangat serta dukungan sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini
3. Kepada
teman-teman yang sudah memberikan saran dan kritik yang bisa dituangkan dalam
penyusunan makalah ini.
Dalam makalah
ini penulis menyadari masih banyak kekurangan. untuk itu saran dan kritik yang
membangun sangat penulis harapkan, akhir kata penulis mengucapkan Terimakasih.
Manado, Februari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.....................................................................................
i
DAFTAR
ISI...................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................
1
1.2 Tujuan Penulisan.............................................................................
1
1.3 Rumusan Masalah...........................................................................
1
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 pengertian estimasi biaya................................................................
2
2.2 Kegunaan estimasi
biaya bagi pihak pihak terkait
(pemilik
proyek):...............................................................................
2
2.3 Kegunaan estimasi biaya bagi pihak pihak
terkait
(konsultan):.......................................................................................
2
2.4
Kegunaan estimasi biaya bagi pihak pihak terkait
(kontraktor)...........................................................................................
3
2.5
Teknik-Teknik Penjadwalan .......................................................... 3
2.6
Rencana Anggaran Biaya (RAB) .................................................. 4
2.7 Analisis Harga Satuan Pekerjaan ................................................... 5
2.8 Metode Pengumpulan
Data............................................................
6
2.9 analisis dan
pembahasan...................................................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.....................................................................................
7
3.2 Saran...............................................................................................
7
Daftar pustaka ........................................................................................8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Estimasi,
dalam arti umum merupakan usaha untuk menilai atau memperkirakan suatu nilai
melalui analisis perhitungan dan berlandaskan pada pengalaman. Demikian halnya
dengan estimasi biaya dalam pada suatu proyek kontruksi, tentunya dimaksudkan
guna memperkirakan nilai pembiayaan suatu proyek.
Estimasi biaya konstruksi merupakan hal
penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidak akuratan estimasi dapat
memberikan efek negatif pada seluruh proses konstruksi dan semua pihak yang
terlibat. Estimasi biaya berdasarkan spesifikasi dan gambar kerja yang
disiapkan owner harus menjamin bahwa pekerjaan akan terlaksana dengan
tepat dan kontraktor dapat menerima keuntungan yang layak Estimasi biaya
konstruksi dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan
analisis detail dan kompilasi dokumen penawaran dan lainnya.
Estimasi biaya mempunyai dampak pada
kesuksesan proyek dan perusahaan pada umumnya. Keakuratan dalam estimasi biaya
tergantung pada keahlian dan ketelitian estimator dalam mengikuti seluruh
proses pekerjaan dan sesuai dengan informasi terbaru.
Proses analisis biaya konstruksi adalah
suatu proses untuk mengestimasi biaya langsung yang secara umum digunakan
sebagai dasar penawaran. Salah satu metode yang digunakan untuk melakukan
estimasi biaya konstruksi adalah menghitung secara detail harga satuan
pekerjaan berdasarkan nilai indeks atau koefisien untuk analisis biaya bahan
dan upah kerja. Hal lain yang perlu dipelajari pula dalam kegiatan ini adalah
pengaruh produktivitas kerja dari para tukang yang melakukan pekerjaan sama
yang berulang. Hal ini sangat penting dan tentu saja dapat mempengaruhi jumlah
biaya konstruksi yang diperlukan apabila tingkat ketrampilan tukang dan
kebiasaan tukang berbeda.
Pada tahap awal penentuan biaya
sangat diperlukan dalam mengambil keputusan dengan estimator proyek. Pada tahap
akhir penentuan biaya diperlukan untuk mengendalikan besarnya biaya proyek.
Penentuan biaya juga berguna untuk menerbitkan biaya laporan bulanan. Tujuan
akhirnya yakni menyelesaikan proyek sesuai kualitas, pada jadwal yang
ditentukan didalam rencana anggaran.
1.2
Tujuan
Penulisan
Membuat dan mampu memahami tentang
penyusunan Estimasi Biaya Proyek Konstruksi.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan estimasi biaya proyek konstruksi?
2. Apa
yang mendasar dari estimasi biaya proyek konstruksi?
3. Bagaimana
perhitungan dari suatu proyek konstruksi?
4. Bagaimana
struktur dari estimasi Biaya?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Klasifikasi
Bangunan Gedung
Setiap bangunan gedung harus memenuhi
persyaratan fungsi utama bangunan. Fungsi bangunan gedung dapat dikelompokkan
dalam fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya,
dan fungsi khusus. Penentuan klasifikasi bangunan gedung atau bagian dari
bangunan gedung ditentukan berdasarkan fungsi yang digunakan dalam perencanaan,
pelaksanaan,atau perubahan yang diperlukan pada bangunan gedung.
2.2
Estimasi
Anggaran Biaya Tahap Desain
Desain merupakan proses pembuatan
deskripsi atau gambaran dari suatu fasilitas, dan biasanya dilengkapi dengan
detail perencanaan dan spesifikasi, yang kemudian di implementasikan pada tahap
kontruksi. Tahap desain merupakan tahap berikutnya setelah tahap perencanaan
konseptual, namun masih termasuk di dalam tahap prakontruksi. Tahap desain ini
ada 2 (dua) bagian, yaitu : Desain Skematik dan Detail Desain. Pada tahap
Desain Skematik, tim desain (yang terdiri dari arsitek dan engineer)
menginvestigasikan alternatif desain, material, dan sistem. Sedangkan pada
tahap Detail Desain, tim desain mengevaluasi, memilih, menyelesaikan sistem
utama dan komponen proyek. Jadwal proyek dan anggaran terus dikembangkan dan
dimonitor selama tahap ini.
2..2.1 Dasar pertimbangan
dalam estimasi Biaya Proyek Desain
1. Sumber
informasi, pengalaman di masa lampau
2. Data-data
proyek terdahulu dan laporan yang akurat
3. Laporan
maupun standar yang berlaku
4. Kondisi
perekonomian, baik dalam skala makro maupun mikro
5. Kondisi
sosial yang sedang terjadi disekitar
6. Kondisi
lingkungan, khususnya lingkungan di sekitar proyek yang bersangkutan
2.3
Pembiayaan Pembangunan
Bangunan Gedung Negara
Pembiayaan pembangunan bangunan gedung
digolongkan pembiayaan pembangunan untuk pekerjaan standar (yang ada standar harga
satuan tertingginya) dan pembiayaan pembangunan untuk pekerjaan non-standar
(yang belum tersedia standar harga satua tertingginya). Pembiayaan pembangunan
bangunan gedung dituangkan dalam Dokumen Pembiayaan yang terdiri atas
komponenkomponen biaya untuk kegiatan pelaksanaan konstruksi, kegiatan
pengawasan konstruksi atau manajemen konstruksi, kegiatan perencanaan
konstruksi, dan kegiatan pengelolaan proyek.
2.3.1
Harga Satuan Tertinggi
Rata-Rata Per M2 Bangunan Bertingkat Untuk Bangunan Gedung.
Harga satuan tertinggi rata-rata per-m2 bangunan
gedung bertingkat adalah didasarkan pada harga satuan lantai dasar tertinggi
per m2 untuk bangunan gedung bertingkat, kemudian dikalikan dengan koefisien
atau faktor pengali untuk jumlah lantai yang bersangkutan, sebagai berikut:
Koefisien/ faktor pengali Bagunan
gedung bertingkat
|
Jumlah
lantai Bangunan
|
Harga
satuan per m2 tertinggi
|
|
2 lantai
|
1,090 standard harga gedung bertingkat
|
|
3 lantai
|
1,120 standard harga gedung bertingkat
|
|
4 lantai
|
1,135 standard harga gedung bertingkat
|
|
5 lantai
|
1,162 standard harga gedung bertingkat
|
|
6 lantai
|
1,197 standard harga gedung bertingkat
|
|
7 lantai
|
1,236 standard harga gedung bertingkat
|
|
8 lantai
|
1,265 standard harga gedung bertingkat
|
2.3.2
Prosentase Komponen
Pekerjaan Bangunan Gedung
Untuk
pekerjaan standar bangunan gedung,sebagai pedoman penyusunan anggaran
pembangunan yang lebih dari satu tahun anggaran dan peningkatan mutu dapat
berpedoman pada prosentase komponenkomponen pekerjaan sebagai berikut :
|
Komponen
|
Gedung Negara
|
|
Pondasi
|
5% - 10 %
|
|
struktur
|
25% - 35 %
|
|
lantai
|
5 % - 10 %
|
|
Dinding
|
7% -10 %
|
|
Plafond
|
6% - 8 %
|
|
Atap
|
8 % -10 %
|
|
Utilitas
|
5 % - 8 %
|
|
finishing
|
10 % - 15 %
|
2.4 Rencana Anggaran Biaya
Rencana anggaran biaya merupakan
perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta
biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek pembangunan.
RAB = Σ ( Volume x
Harga Satuan Pekerjaan )
Anggaran biaya pada bangunan yang sama
akan berbeda-beda di masing-masing daerah, hal ini disebabkan perbedaan harga satuan
bahan dan upah tenaga kerja. Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap
penyusunan anggaran biaya suatu bangunan yaitu faktor teknis dan non teknis.
Faktor teknis antara lain berupa ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang harus
dipenuhi dalam pelaksanaan pembangunan serta gambargambar kontruksi bangunan.
Sedangkan factor non teknis berupa harga-harga bahan bangunan dan upah tenaga
kerja. Dalam melakukan anggaran biaya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
anggaran biaya kasar (taksiran) dan anggaran biaya teliti.
2.5
Time
Sceduleh ( rencana kerja )
Yang
dimaksud dengan Penjadwalan ( Time Schedule ) adalah mengatur rencana
kerja dari satu bagian atau unit pekerjaan.
Kegiatan ini meliputi :
1. Kebutuhan
tenaga kerja
2. Kebutuhan
material atau bahan
3. Kebutuhan
waktu
4. dan
Transportasiataupengangkutan
Dari
time schedule kita akan mendapatkan gambaran lamanya pekerjaan dapat di
selesaikan, serta bagian-bagian pekerjaan yang saling terkait antara satu dan
lainnya.
2.5.1
Metode
Penjadwalan Proyek
2.5.1.1
Barchard ( Diagrama Balok )
Metode ini mula-mula dipakai dan
diperkenalkan oleh Hendri Lawrence Gantt pada tahun 1917. Metode ini bertujuan
mengidentifikasikan unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan,
yang terdiri dari waktu mulai, waktu selesai dan pada saat pelaporan. Barchart
(Diagram Balok) sangat bermanfaat sebagai alat perencanaan dan komunikasi.
Bila digabungkan dengan metode lain, misalnya grafik “S” dapat dipakai untuk
aspek yang lebih luas. Kelemahan Barchart (Diagram Balok) adalah kurang
dapat menjelaskan keterkaitan antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya.
misalnya kegiatan pondasi terjadi perubahan atau terlambat. Perubahan yang
terjadi tersebut tidak terlihat secara langsung mempengaruhi kegiatan lainnya,
hal tersebut disebabkan tidak jelasnya hubungan (relationship) antar
kegiatan.
2.5.1.2 Jalur Kritis
(CMP)
Teknik Metode Jalur Kritis (CPM)
dikembangkan oleh James E. Kelly, Jr darI Remington Rand dan Morgan Walker dari
Du Pond. Metode jaringan kerja CPM (Critical Path Method) atau metode
I-J ialah sebuah activity on arrow (AOA) terdiri dari panah dan
lingkaran. Panah merepresentasikan aktifitas, lingkaran atau nodal
merepresentasikan even.
2.5.1.3 Metode Network
Metode Network (Network Analisys) adalah
perbaikan dari metode diagram batang.
Metode ini menyajikan secara jelas
hubungan ketergantungan antara bagian kegiatan dengan kegiatan lainnya yang
digambarkan dalam diagram network. Dengan metode ini dapat diketahui bagian -
bagian kegiatan yang harus didahulukan, yang harus menunggu selesainya kegiatan
lain, dan kegiatan yang tak perlu tergesa-gesa. Metode Network Analisys ini
mengalami penyempurnaan secara bertahap, yaitu Barchart, PERT, CPM, PDM dan
terakhir adalah penjadwalan dengan komputer. Salah satu alat yang paling
menyolok dalam penggunan alat bantu komputer adalah kemampuan mengolah data
dalam jumlah besar dan dengan kemungkinan kesalahan yang kecil. Dengan demikian
penyusunan jadwal dapat lebih cepat dan teliti. Setiap saat situasi proyek
mengalami perubahan, komputer dapat melakukan perubahan tersebut dalam waktu
singkat. Saat ini telah banyak program penjadwalan dengan menggunakan komputer.
Pada dasarnya program-program tersebut berprinsip pada perhitungan CPM, PDM,
dan dengan penampilan gantt chart yang disempurnakan sehingga hubungan
keterkaitan tiap kegiatan tergambar dengan jelas. Dengan penggunaan komputer,
penjadwalan dapat dilakukan secara terpadu (waktu, material, tenaga kerja serta
biaya), cepat, tepat, memudahkan dalam pengambilan keputusan serta kunci-kunci
pokok permasalahan pelaksanaan proyek.
2.6 Penyusunan
Anggaran Biaya
Dalam penyusunan anggaran biaya,
terlebih dahulu perlu diketahui untuk keperluan apa dan kapan anggaran biaya
tersebut dibuat. Hal ini akan berpengaruh pada cara/sistem penyusunan dan hasil
yang diharapkan. Penyusun anggaran biaya terdiri dari instansi/dinas/jawatan
(khusus bangunan negara), perencana dan kontraktor. Cara/sistem penyusunan
berbeda-beda meskipun berdasarkan pada prinsip yang sama.
Ada 2 (dua) macam jenis penyusunan anggaran biaya, yaitu
:
1. Anggaran
biaya kasar / taksiran( cost estimate )
2. Anggaran
biaya teliti ( definitif )
2.6.1
Anggaran
Biaya Kasar/Taksiran
Penyusunan anggaran biaya kasar
memerlukan bahan-bahan antara lain gambar prarencana, keterangan singkat
mengenai bahan-bahan bangunan yang digunakan, cara pembuatannya dan persyaratan
pokok yang ditentukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penyusunan
anggaran biaya kasar antara lain :
1. Jenis
dan ukuran bangunan
2. Jenis
kontruksi (berat atau ringan)
3. Lokasi
bangunan
2.6.1.1
Cara
Perhitungan Anggaran Biaya Kasar
Untuk menghitung anggaran biaya terlebih dahulu perlu disiapkan
bahan-bahan yang telah diuraikan termasuk
data/catatancatatan mengenai harga
bangunan sejenis yang ada.
Selanjutnya perlu ditetapkan ukuran
pokok berdasarkan gambar prarencana
yang akan dipakai sebagai dasar perhitungan
untuk menentukan harga satuan pekerjaan.
Yang dimaksud dengan ukuran pokok
dalam penulisan disini adalah untuk bangunan
gedung, yang dipakai sebagai ukuran
pokok adalah luas lantai per m2, luas atap
per m2 atau sisi bangunan per m3 (jarang digunakan).
Perkiraan
harga satuan yang digunakan baik untuk perhitungan luas lantai, maupun isi
bangunan, tergantung pada :
1. Sifat
atau bentuk bangunan yang meliputi : bangunan sederhana, bangunan sedang atau
baik, bangunan megah atau monumental.
2. Jenis
bangunan yang meliputi : bangunan gedung, rumah tinggal, kantor, sekolah,
gedung pertemuan dan sebagainya.
3. Jenis
Kontruksi yang meliputi : berat atau ringan dari kontruksi, gedung
bertingkat/tidak bertingkat
4. Jenis
Bahan-bahan bangunan pokok yang digunakan Untuk menentukan ukuran pokok dapat
ditempuh beberapa cara, yaitu :
a. Luas
lantai (ukuran dalam, ukuran sumbu dan ukuran luar).
b. Luas
atap (ukuran berdasarkan denah bangunan termasuk tritisan)
c. Isi
bangunan, dihitung berdasarkan uas lantai dikalikan tinggi gedung.
Ukuran tinggi gedung dihitung dari
tenggah-tengah kedalaman fondasi (separuh tinggi pondasi dari alas pondasi
sampai lantai) dengan tengah-tengah jarak antara talang atau tritisan dan
puncak bangunan. Ruang bawah (basement) dihitung penuh.
2.6.2
Anggaran
Biaya Teliti
Bahan-bahan
yang diperlukan dalam penyusunan anggaran biaya teliti, antara lain :
a. Peraturan
dan syarat-syarat ( Bestek )
b. Gambar
rencana atau Gambar Bestek
c. Buku
analisa BOW.
d. Peraturan-peraturan
normalisasi yang bersangkutan
e. Peraturan-peraturan
bangunan Negara dan bangunan setempat.
f. Syarat-syarat
lain yang diperlukan.
2.6.2.1
Cara
Menyusun Anggaran Biaya Teliti
Perhitungan yang dibuat untuk menyusun
anggaran biaya teliti akan menghasilkan suatu biaya atau harga bangunan dan
dengan biaya atau harga tersebut untuk pelaksanaan, bangunan akan terwujud
sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena itu anggaran biaya teliti harus
disusun dengan teliti, rinci dan selengkaplengkapnya. Sebelum mulai menghitung
anggaran biaya teliti perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
Semua
bahan untuk menyusun anggaran biaya teliti supaya dikumpulkan dan diatur
dengan
rapi.
1. Gambar-gambar
rencana atau gambar bestek dan penjelasan atau keterangan yang tercantum dalam
peraturan dan syarat-syarat atau bestek, berita acara atau risalah penjelasan
pekerjaan harus selalu dicocokan satu sama lain.
2. Membuat
catatan sebanyak mungkin yang perlu, baik mengenai gambar bestek ataupun
bestek.
3. Menentukan
sistim yang tepat dan teratur yang akan dipakai dalam perhitungan
2.6.2.2 Harga Satuan
Pekerjaan
Harga satuan pekerjaan adalah jumlah
harga bahan dan upah tenaga kerja atau harga yang harus dibayar untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi berdasarkan perhitungan analisis..
Analisis disini adalah ketentuan umum yang ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum
Depok. Dalam Analisis Satuan Komponen, telah ditetapkan koefisien (indeks)
jumlah tenaga kerja, bahan dan alat untuk satu satuan pekerjaan.
2.7
Perhitungan
Rencana Anggaran Biaya
Secara umum dapat dirumuskan sebagai
berikut :
RAB = Σ ( Volume x
Harga satuan pekerjaan )
Dalam Penyusunan RAB diperlukan Jumlah
volume per satuan pekerjaan dan analisa harga satuan pekerjaan berdasarkan
gambar bestek serta syarat-syarat analisa pembangunan konstruksi berlaku.
2.7.1
Porsentase
Bobot Pekerjaan
Prosentase
bobot pekerjaan merupakan besarnya nilai prosentase tiap item-item pekerjaan, berdasarkan
perbandingan antara anggaran biaya pekerjaan dengan harga bangunan. Secara
skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
Persentase Bobot Pekerjaan (PBP) = Volume x Harga satuan x 100 %
Harga
Bangunan
2.8
Analisis
Data
2.8.1
Komponen
Biaya Standard dan Non standar
1. Luas
Bangunan 5 Lantai :
( 4 x 400 ) + 455 + 64 = 2.119 m2
2. Harga
Satuan Bangunan Kotip Depok (type A)
= Rp. 1,982,000.00 / m2
Faktor
Pengali = 1.162
3. Harga
Satuan Per m2 Bangunan x Luas Lantai
=
1.162 x 1,982,000.00 x 2.119
=
Rp 4,880,234,996.00
Bedasarkan
pengalaman dan penelitian di lapangan dari beberapa macam proyek pekerjaan
konstruksi yang telah dilakukan oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana
Wilayah, maka diperoleh komponen biaya standar dan non standar sebagai berikut
:
KOMPONEN BIAYA
STANDAR
|
No
|
Komponen
|
Estimasi
|
Harga (Rp)
|
|
1.
|
Pondasi
|
0.10
|
488,023,499.60
|
|
2.
|
Struktur
|
0.35
|
1,708,082,248.60
|
|
3.
|
Lantai
|
0.08
|
390,418,799.68
|
|
4.
|
Dinding
|
0.08
|
390,418,799.68
|
|
5.
|
Plafond
|
0.07
|
341,616,449.60
|
|
6.
|
Atap
|
0.10
|
488,023,499.60
|
|
7.
|
Utilitas
|
0.07
|
341,616,449.72
|
|
8.
|
Finishing
|
0.15
|
732,035,249.40
|
|
|
TOTAL
|
1.00
|
4,880,234,996.00
|
KOMPONEN BIAYA
NON STANDAR
|
No
|
Komponen
|
Estimasi
|
Harga (Rp)
|
|
1.
|
Tata Udara AC
|
0.08
|
390,418,799.68
|
|
2.
|
Tata suara
|
0.02
|
97,604,699.92
|
|
3.
|
Telepon
|
0.03
|
146,407,049.88
|
|
4.
|
Genset
|
0.05
|
244,011,749.80
|
|
5.
|
Sist.Deteksi & Penc.Kebakaran
|
0.05
|
244,011,749.80
|
|
6.
|
Furniture
|
0.05
|
244,011,749.80
|
|
7.
|
Penangkal Petir
|
0.01
|
48,802,349.96
|
|
8.
|
Peningkatan Mutu
|
0.06
|
292,814,099.76
|
|
|
TOTAL
|
0.35
|
1,708,082,248.60
|
BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis menarik
suatu kesimpulan bahwa Anggaran biaya konstruksi pembangunan gedung bertingkat
didapat dari hasil penjumlahan biaya standar dan non standar yang berdasarkan
pada syarat teknis bangunan gedung, maka didapat perkiraan total biaya-biaya
komponen kegiatan pembangunan bangunan gedung sebesar Rp 6,588,317,244.60.
Nilai Proyek yang didapat dari hasil
estimasi anggaran biaya konstruksi pada
Pembanguna
lebih kecil dibandingkan anggaran biaya konstruksi berdasarkan syarat teknis
bangunan gedung. Artinya estimasi anggaran biaya konstruksi pada Pembangunan
dapat digunakan dala pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Oleh karena itu proyek
pembangunan bangunan gedung dilaksanakan dan dapat memenuhi syarat teknis
pembangunan bangunan gedung.
3.2 Saran
Hal yang penting dalam pemilihan metode estimasi
biaya proyek konstruksi mudah dan tidak mahal dalam penggunaannya. Parameter
yang digunakan dalam estimasi anggaran biaya konstruksi untuk bangunan gedung
adalah luas lantai dan jumlah lantai. Langkah awal yang harus diperhatikan
adalah menentukan klasifikasi bangunan baik berdasarkan kegunaan bangunan
ataupun kompleksitas. Parameter yang lebih penting adalah indeks harga bangunan
gedung permeter persegi berdasarkan perencanaan program dan anggaran bangunan
gedung yang dikeluarkan sesuai dengan daerah pelaksanaan proyek.
No comments:
Post a Comment